Postingan

Bahagia dalam Aturan

Keluargaku adalah lingkungan yang aku kenal pertama kali. Lingkungan dimana aku menghabiskan banyak waktu untuk belajar dan bermain . Banyak peristiwa dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga yang menjadi suatu bentuk perkenalan rasa. Keluarga adalah yang paling awal mengajarkan banyak hal dalam hidup. Entah itu dari segi pendidikan formal maupun non formal,  belajar mengolah rasa, menerima keadaan, menghargai perbedaan dari segi apapun itu. Sebagian besar aku dapatkan dari lingkungan keluarga. Dalam keluarga ada banyak watak yang sungguh jauh berbeda, cara dan jalannya pemikiran yang tidak jarang saling bertolak belakang, apalagi soal pendapat yang seringkali tak sejalan. Yah ada banyak warna dalam suatu keluarga, yang pantas dijadikan tempat belajar sebelum mengenal liarnya dan kerasnya dunia luar. Seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa dalam keluarga, ada banyak watak disana. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada juga keluarga yang memiliki watak yang tidak jauh berb...

Jika semua berjalan lancar

Gambar
Lingkungan pertemananku bukanlah tipe pergaulan yang gampang diizinkan oleh orang tua jika ingin keluar rumah, apalagi jika ingin bepergian jauh. Bukan tipe pergaulan orang yang bisa bebas kemana saja, bisa pergi bersama teman-teman tanpa ditanya mau kemana?, sampai jam berapa?, ada keperluan apa?, siapa saja yang akan pergi?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang selaras, seperti sedang diinterogasi. Homebody atau anak rumahan, mungkin sebutan itu lebih mewakili statusku dilingkungan pertemanan. Sebab saking seringnya dilarang kemana-kemana jika memang tidak terlalu penting, akhirnya melekat dalam diri dan menjadi kebiasaan malas untuk kemana-mana kalau hanya untuk pergi keluyuran, mending dirumah saja. Hitung-hitung bisa hemat uang jajan dan skin care. Capek juga rasanya setiap harus keluar rumah harus melewati tahap penyelesaian soal tanya jawab lisan oleh orang tua. Sialnya lagi, jika ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan baik dan jelas. Sementara kondisi sudah rapi, ...

Ada jalan lebih baik

Gambar
Semua orang didunia ini punya cita-cita, punya tujuan dihidupnya. Setidaknya punya target yang sebisa mungkin diusahakan untuk bisa tercapai dalam kurun waktu tertentu. Sejak sekolah Pendidikan Anak Usia Dini, kemudian beranjak ketingkat Taman Kanak-kanak, lalu Sekolah Dasar, berlanjut lagi ke Sekolah Menengah Pertama, sampai ketingkat Sekolah Menengah Atas pun banyak yang sudah punya cita-cita, meskipun ada yang seiring waktu cita-citanya berubah-ubah, termasuk aku sendiri. Tapi, tentang cita-cita yang masih berubah-ubah ini, menurutku hal yang wajar. Wajar karena masa remaja itu masih labil, masih ada diantaranya yang belum tahu tentang apa yang diperlukan untuk mencapai cita-cita tersebut dan ada tanggung jawab seperti apa di setiap pekerjaan yang kita pilih nantinya. Berbeda halnya jika nanti sudah dewasa. Akan ada lebih banyak masa yang telah dilewati yang banyak memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang masa depan. Seiring waktu bertambahnya usia, apalagi seseorang yang ...

Kukira sembuh ternyata luka

Gambar
Memberikan banyak pelajaran dan membuat diri ini sadar akan pentingnya komunikasi dalam suatu hubungan dengan seseorang, mungkin itu pesan yang ingin semesta sampaikan padaku setelah dipertemukan dengannya. Seorang manusia biasa yang punya watak susah untuk ditebak. Memiliki sikap yang lembut kepada setiap orang, baik tutur katanya, dan perhatian kepada sesama. Aku bertemu dengannya saat aku duduk di bangku kuliah semester tiga. Kami berada di salah satu kampus swasta yang sama, tapi fakultas dan jurusan yang berbeda. Hanya saja fakultas kami berhadapan, dan tempat nongkrong kami yang bisa dibilang adalah area yang sama. Di area itulah aku bertemu dengannya pertama kali. Aku merasa pertemuan dengannya adalah salah satu cara semesta  untuk menyembuhkan rasa sakit masa laluku. Berbulan-bulan sebelum bertemu dengannya, aku masih dalam proses penyembuhan hati yang luar biasa sakit dan kecewa dengan seseorang, karena pergi tanpa kabar dan alasan yang jelas. Awal-awal bertemu denga...

Abaikan semuanya, ambil jeda dulu.

          Pernah nggak sih, kalian di dekati oleh beberapa orang dalam rentang waktu yang sangat-sangat dekat. Apalagi tujuan mereka pun sama.         Sebenarnya ini bukan sesuatu yang perlu aku pikirkan sebegitunya. Tapi, kalau umur segini yang memang udah rawan-rawanya masuk daftar perjodohan keluarga. Jadi, mau tidak mau yah aku jadi ikut kepikiran. Padahal menurutku, tidak perlu buru-buru untuk segera menikah sih. Kalau memang merasa diri belum siap, yah mau gimana lagi. Kalau belum menemukan yang cocok yah masa harus dipaksa buat cocok.  Sampai pada masanya, aku merasa capek sendiri memikirkan siapa yang terbaik. Memikirkan tentang masa depan, bagaimana cara mereka dalam mengambill keputusan dan kesimpulan, bagaimana cara mereka untuk menyelesaikan masalah nantinya, bagaimana cara mereka dalam membimbing suatu keluarga kecil yang merupakan hal yang sangat baru dalam hidupnya. Yah, banyak hal yang membuat aku bertanya-tanya sekaligus...

Anak sesantai ini, berkelahi dengan keseriusan

Masih bisakan yah anak usia mendekati 27 tahun ini, santai-santai dulu. Jangan disuruh mikirin yang berat-berat dulu. Bukan keharusan kan untuk segera menikah diusia ini, tidak ada undang-undang yang ngatur tentang hal itu kan ?  Sebenarnya, waktu buat sendiri, makin hari makin direnggut oleh waktu. Makanya, kalau disuruh milih untuk mulai memikirkan masa depan, yah dipikir jugalah. Tapi kalau disuruh nikah cepat-cepat, menurutku itu keliru sih. Karena kalau disuruh mikirin masa depan, nggak melulu soal pernikahan. Meskipun memang, nikah sebagai salah satu tahapannya.  Menurutku pribadi, usia 27 tahun itu bukan usia yang tergolong usia yang sangat-sangat butuh atau harus segera menikah. Karena apa?, karena usia tidak menjamin kesiapan mental untuk bisa menerima dan saling mengerti untuk segala hal, karena semuanya bakal dirasain bareng-bareng. Sedihnya, marahnya, kecewanya, jengkelnya, bahagianya, semuanya.  Bukan usia yang sangat butuh pertolongan untuk dicarikan jodoh a...

Ikut merasakan

Hari ini aku mengawali hari dengan sedikit tergesa-gesa. Sedikit kepanikan sekaligus ocehan atasan yang membuat perasaan tidak karuan. Tapi sebenarnya, hal tersebut tidak perlu aku hiraukan sampai sebegitunya. Menurutku, biasalah kalau hal itu terjadi. Namanya juga karyawan, bukan atasan atau pimpinan yang punya hak penuh untuk bisa menyuruh atau memberikan tugas ini dan itu. Dengan sambutan suasana hati yang sedikit membekaskan pengalaman pahit, aku jadi bisa belajar sesuatu hal lagi dari kejadian tersebut. Aku bisa belajar dalam memperhatikan pekerjaan dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.  Jikalau ingin membahas tentang perasaan, rasanya aku sudah paham tentang bagaimana siklus perasaan itu silih berganti dalam kehidupan setiap orang. Tahu bahwa perasaan itu bukan bahagia saja. Yah tergantung suasana hati :)