Postingan

Maaf, Anakmu Terlalu Gengsi

Jika ditanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan orang tua, pasti suasana hatiku seketika langsung sedih. Ada rasa sedih dan takut yang bercampur aduk. Aku sedih karena diumurku yang sudah cukup dewasa, belum mampu memberikan sesuatu yang lebih untuk orang tua, belum bisa mewujudkan semua permintaan orang tua jika ingin sesuatu.  Bahkan kebutuhan sehari-hari pun, kadang belum bisa aku penuhi. Meski aku sudah bisa membantu sedikit demi sedikit, tapi aku merasa masih sangat jauh dari apa yang seharusnya. Aku selalu dihantui rasa takut jika melihat orang tuaku. Aku takut jika tidak bisa berbakti, takut belum mampu membahagiakan Ayah dan Ibu diumur yang tidak muda lagi. Harusnya diusia sekarang ini, waktunya Ayah dan Ibu menikmati masa tua, bukan kerja keras pagi dan sore di kebun. Tanpa kenal cuaca terik dan hujan, muka merah terbakar matahari, bibir pucat kedinginan, jari tangan dan kaki kusut karena kehujanan. Ayah, Ibu. Maafkan anakmu karena engkau masih harus bekerja keras...

Lahir Dari Sakit Hati

Tentang berkarya adalah  tentang niat. Niat yang sungguh-sungguh, siap untuk menerima semua situasi yang akan datang. Tentang berkarya, juga tentang kemampuan. Banyak orang diluar sana yang dengan gampangnya mencap dirinya tidak bisa, padahal mencobanya saja belum dilakukan. Dalam situasi seperti itu, bisa dibilang memang ia tidak niat untuk melakukan aktivitas tersebut. Berkarya itu tentu juga tentang bakat yang dimiliki seseorang. Meskipun awalnya tidak mahir, lama-kelamaan akan mahir jika terus latihan. Tidak ada pemain prosefional diluar sana yang lahir begitu saja. Semua kemahiran yang mereka perlihatkan saat ini, tentu ada perjuangan yang keras sebelumnya, ada pengorbanan yang menguras emosi, menguras tenaga, mengorbakan waktu, bahkan banyak diantaranya yang mengorbakan keluarga mereka.  Menurutku, semua orang punya bakat. Hanya saja banyak yang tidak niat untuk mengetahui apa bakat mereka, tidak ada rasa ingin tahu, tidak ada rasa percaya diri dalam dirinya tentan...

Karena Harapan

Perasaan suka kepada seseorang itu tentu saja manusiawi. Aku, kamu, orang tuamu, saudaramu, keluargamu, dan semua orang yang di dunia ini. Semua orang punya hati, jadi wajarlah jika bisa merasakan beragam rasa yang dianugrahkan oleh-Nya. Baik itu perasaan benci, kecewa, sedih, dan juga perasaan yang diharapkan banyak orang adalah perasaan bahagia.   Meskipun hidup tidak selamanya akan merasa bahagia terus menerus. Tapi, yakin saja bahwa sejatinya , tidak ada orang yang tidak ingin bahagia dalam hidupnya. Termasuk aku sendiri. Diluar sana, tentu ada banyak orang-orang yang ingin menjalani hidup tenang dan tentram bersama orang-orang terkasih. Ingin hidup sehat, menjalani keseharian yang memberikan dampak baik untuk kesehatan jasmani dan rohani diri. Yah, hidup bahagia adalah harapan banyak orang. Meski sadar bahwa kelak seiring waktu berjalan , harapan itu akan menjelma menjadi sebuah doa yang diaminkan setiap waktu. Harapan akan memberikan kebahagiaan jika itu terjadi sesuai dengan...

Hampir Menyerah

Sejak kecil, orang tuaku selalu menyinggung hal yang berbaur tentang pendidikan. Kata mereka, aku harus rajin belajar agar menjadi anak yang pintar. Sebisa mungkin harus rutin untuk selalu mengulang pelajaran . Agar nantinya, jika ada ujian aku bisa menjawab dengan baik dan benar. Aku harus menjadi anak yang berpendidikan. Jangan seperti mereka yang kurang beruntung karena hanya bisa merasakan duduk di bangku tingkat SMP dan SD. A ku harus sekolah sampai sarjana , baru pikir tentang menikah . Aku harus mencapai cita-cita yang aku impikan. A ku selalu mendengar bahwa orang berpendidikan itu hidupnya enak. Orang berpendidikan itu tidak perlu mencari uang dengan susah payah , t idak perlu pergi ke kebun panas-panasan, apalagi hujan-hujanan.  Cukup dengan menjual jasa nya dan melakukan keahlian mereka. Keahlian mereka akan sangat dibutuhkan dan dipercaya, apalagi mereka punya ijazah dan sertifikat yang mendukung keahlian nya . Ada banyak cerita orang tuaku yang begitu menyent...

Dunia Penuh Kejutan

  Manusia sebagai makhluk yang punya hasrat, memiliki kecenderungan sifat selalu ingin memiliki. Memiliki sesuatu yang diinginkan, sesuatu yang membuat diri merasa senang, merasa puas, dan juga merasa bangga atas apa yang ia miliki. Sifat kecenderungan tersebut, seringkali membawa seseorang kepada perkara yang merugikan, juga memalukan. Seringkali lupa bahwa apa yang Allah berikan di dunia ini, semua hanyalah sebuah titipan dan amanah. Titipan sebagai senjata, sebagai acuan, sebagai bekal untuk kelak kita menuju kepadaNya. Amanah yang tujuan sebenarnya untuk kita kembangkan, dididik, diberi ilmu, dijaga, dan dirawat. Tapi, karena hasrat yang begitu bergelora, akhirnya membawa pada kebatilan. Sebab tidak mampunya kita untuk mengelola hasrat kita dengan baik, semua titipan dan amanah yang diberikan oleh Allah, berubah menjadi sebuah ujian kehidupan. Manusia juga memiliki kecenderungan kepada ketakwaan, tapi disaat yang bersamaan pula batin pun harus berperang melawan hawa nafsu...

Disadarkan Masa Lalu

  Setiap orang punya kisah dihidupnya. Entah itu kisah yang membahagiakan, ataukah kesedihan yang mendominasi kisah hidupnya. Setiap orang punya rasanya masing-masing. Entah ia memperlihatkan, ataukah memutuskan untuk memendam. Setiap orang punya waktunya untuk menikmati perasaannya sendiri. Entah untuk merenungkan, mengenang kembali, berusaha memperbaiki kesalahan yang dilakukan di masa lalu agar kelak dimasa sekarang dan masa depan tidak lagi terulang.  Bernostalgia adalah salah satu caraku untuk bisa mengambil pelajaran hidup yang telah lalu, kemudian mengenang rasa sedih dan bahagia yang sebagian besarnya tidak akan terulang lagi. Mengenang masa lalu adalah kejadian yang tidak menentu, tidak pula direncanakan, dan secara tiba-tiba teringat begitu saja. Bagiku, nostalgia itu rasanya seperti berwisata ke masa lalu. Berwisata ke tempat-tempat tertentu yang aku kunjungi di masa lalu. Melakukan beberapa aktivitas disana dan berhasil memberi kesan tersendiri  yang bis...

Berhenti Meyiksa Diri

Tipe anak yang pendiam dan pemalu sepertiku, rasanya banyak sekali yang perlu aku benahi. Mulai dari sikap hingga kebiasaan hidup yang tidak karuan. Aku adalah tipikal orang yang kurang percaya diri, orang yang gampang kepikiran dan gampang merasa down. Usia 20 tahunan ini, aku masih merasa sulit untuk berbicara di depan banyak orang, apalagi di tempat umum. Orangnya puitis sekaligus cengeng dan termasuk paling cuek di lingkungan pertemanannya. Entah semua ini pembawaan dari lahir ataukah buah dari pahit manisnya hidup yang telah aku lewati selama 24 tahun ini. Selain tipikal yang aku sebutkan di atas, aku juga sebenarnya anak yang suka memendam perasaannya sendiri. Bukan karena tidak punya teman untuk bercerita, tapi aku rasa masalahku cukup aku dan Tuhanku saja yang tahu, lalu aku mencari jalan keluarnya sendiri. Alhasil, tidak jarang aku hanya bisa menangis sesegukan di bawah bantal, tanpa suara. Melepaskan semua emosi yang membuat sesak di dada. Aku suka memendam perasaanku ...